Jakarta – Polres Metro Jakarta Timur masih mendalami kemungkinan adanya dalang dan penyokong dana aksi dibalik penyerangan dan perusakan kantor polisi di Jaktim.
Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Alfian mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk membuktikan ada atau tidaknya penyokong dana aksi tersebut.
“Kita masih dalami, semuanya ini tentunya nanti akan kita kaji, analisa dan nanti akan kita berikan informasi lebih tepatnya terkait koordinator aksi ataupun (penyokong) dana,” kata Kombes Alfian Nurrizal dalam keterangannya, Selasa (9/9).
Pendalaman dilakukan terkait koordinator aksi maupun penyandang dana mengingat penyerangan berlangsung terstruktur dan melibatkan bom molotov buatan tersangka.
“Tadi sudah ditanyakan untuk keterkaitan tersangka yang satu dengan lainnya kami belum bisa menyampaikan bahwa adanya provokasi dan pendanaan. Semua tentunya perlu kami dalami dulu,” ujar Alfian.
Selanjutnya, terkait nilai kerugian, Alfian menyebut pihaknya telah melaporkan seluruh kerusakan inventaris ke Polda Metro Jaya.
“Belum bisa kami sebut, tapi sudah laporkan kepada Polda kerusakan-kerusakan dari barang inventaris kami, tapi kami tidak bisa menilai berapa karena itu adanya dari rekan-rekan yang bisa menghitung. Mulai kerusakan, dibakar, kehilangan itu sudah kita laporkan semuanya,” ujarnya.
Sebelumnya polisi sudah mengungkap keterlibatan dua orang tersangka dalam peracikan bom molotov yang digunakan saat penyerangan Mapolsek Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu (30/8) dini hari.
“Tersangka yang diamankan yakni AR (23), RR (27), SEP (22) dan STP (24), mereka melakukan penyerangan dan perusakan terhadap Mako Polsek Jatinegara. Dua di antaranya berperan membuat bom molotov,” ucap Alfian saat konferensi pers di Mapolres Metro Jakarta Timur, Senin (8/9).
Dua orang, yakni AR dan RR tersebut merupakan karyawan SPBU swasta yang juga berperan saat kericuhan aksi telah ditetapkan sebagai tersangka.
Mereka membantu proses pembuatan proses pembuatan tiga bom molotov di depan SPBU Shell, Jalan Letjen MT Haryono, Cawang, Kramat Jati.
“Mereka membeli tiga botol (kaca minuman) untuk wadah membuat bom molotov, dan menyiapkan satu botol membantu mengisi bensin ke botol dan menyiapkan sumbuh kain,” jelas Alfian.
Selain itu, Polres Metro Jaktim juga telah menangkap 14 tersangka perusakan sejumlah kantor polisi di wilayahnya pada aksi kericuhan itu.
Para tersangka memiliki peran beragam mulai dari menyerang dengan bambu, melempar batu ke kantor polisi, bahkan melakukan penjarahan.
(Rohi)








