Surakarta – Bhayangkara-lipsus.com – 20 Februari – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Kristen Teknologi Solo (BEM UKTS) menyelenggarakan rangkaian kegiatan Solo Eco Barter, sebuah gerakan kolaboratif yang bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekaligus memperkuat adaptasi perubahan iklim, pengurangan risiko bencana (PRB), dan dukungan terhadap program ketahanan pangan di Kota Surakarta.
Rangkaian kegiatan ini mengusung semangat “Trash to Tree, Waste to Hope”, yaitu gerakan hijau yang mengajak masyarakat menukar sampah anorganik menjadi bibit tanaman. Program ini dirancang sebagai aksi nyata yang mudah diikuti masyarakat dan memiliki dampak langsung: mendorong perubahan perilaku pengelolaan sampah, memperluas penghijauan, serta membangun kesadaran bahwa tindakan kecil yang dilakukan bersama dapat berkontribusi terhadap ketangguhan kota.
Kegiatan Solo Eco Barter: Sampah Anorganik Jadi Tanaman dilaksanakan pada Minggu, 15 Februari 2026 pukul 06.00–09.00 WIB di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Solo. Kegiatan ini diisi dengan aksi pengumpulan sampah di area CFD yang sekaligus menjadi sarana edukasi kepada pengunjung dan pedagang kaki lima agar tidak membuang sampah sembarangan serta mulai membangun kebiasaan mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab. Rangkaian kegiatan turut dimeriahkan dengan penampilan band Reviem UKTS, orasi penghijauan, program penukaran sampah anorganik menjadi bibit tanaman, penandatanganan komitmen peduli lingkungan, mini games edukatif, serta berbagai aktivitas partisipatif lainnya. Melalui pendekatan yang edukatif dan menyenangkan, Solo Eco Barter mendorong keterlibatan langsung masyarakat dalam pengelolaan sampah dan penghijauan kota sebagai bagian dari upaya adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana di wilayah perkotaan.
Sebagai agenda lanjutan, BEM UKTS menyelenggarakan Seminar Lingkungan Hidup bertema “Ketangguhan Komunitas dalam Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana di Kota Surakarta” pada Kamis, 19 Februari 2026 pukul 14.00 WIB bertempat di Kelurahan Setabelan, Kota Surakarta. Seminar ini menjadi ruang dialog publik untuk mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, komunitas kepemudaan, mahasiswa, dan masyarakat umum, guna memperkuat pemahaman bersama bahwa isu lingkungan, perubahan iklim, dan kebencanaan perkotaan merupakan satu kesatuan dan harus ditangani secara terintegrasi.
Dalam pelaksanaan rangkaian kegiatan ini, BEM UKTS berkolaborasi dengan Jejaring Komunitas Kristen untuk Penanggulangan Bencana di Indonesia (JAKOMKRIS PBI) serta Pemerintah Kota Surakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta, dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DISPANGTAN) Kota Surakarta.
Seminar dibuka dengan sambutan Plh. Wali Kota Surakarta yang diwakili oleh Bapak Tulus Widajat, S.E., M.Si, selaku Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kota Surakarta. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa Surakarta sebagai kota padat penduduk yang berada dalam kawasan ekosistem Bengawan Solo menghadapi tantangan nyata seperti banjir, kekeringan, serta peningkatan suhu akibat perubahan iklim. Ia menekankan bahwa pembangunan kota ke depan perlu secara konsisten mengintegrasikan aspek adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana dalam perencanaan. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya pembangunan berkelanjutan melalui penguatan ruang terbuka hijau, pengelolaan sumber daya air yang adaptif, peningkatan literasi kebencanaan, serta pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan program pemerintah akan jauh lebih kuat bila ditopang oleh partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda sebagai aktor strategis masa depan.
Seminar menghadirkan tiga narasumber utama dari lintas sektor dengan perspektif yang saling melengkapi. Narasumber pertama, Pdt. Ageng Prasetya Raharjo, S.Pd.K dari JAKOMKRIS PBI, menyampaikan bahwa ketangguhan komunitas tidak lahir hanya dari pengetahuan, tetapi dari hubungan sosial yang kuat di masyarakat. Ia menekankan pentingnya solidaritas sosial, pengorganisasian komunitas, serta aksi kolektif yang konsisten sebagai fondasi ketangguhan menghadapi krisis iklim dan risiko bencana. Menurutnya, bencana dan krisis lingkungan seringkali menjadi lebih berat ketika masyarakat terfragmentasi dan tidak punya ruang koordinasi. Karena itu, penguatan komunitas perlu dibangun melalui proses edukasi, pendampingan, dan pengorganisasian warga agar masyarakat mampu memahami risiko, memiliki kebiasaan siap-siaga, serta mampu merespons secara bersama-sama. Ia juga menegaskan bahwa gerakan komunitas harus berangkat dari realitas lokal: apa persoalan yang dialami warga, bagaimana pola perilaku sehari-hari, serta apa bentuk aksi kecil yang paling mungkin dilakukan bersama.
Narasumber kedua, Prasetianingsih Soewarno, SP., M.Si, Penyuluh Lingkungan Ahli Muda dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, memaparkan bahwa lingkungan perkotaan menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan saling terkait. Ia menjelaskan bahwa persoalan sampah, kualitas air dan udara, hingga keterbatasan ruang terbuka hijau tidak hanya berdampak pada kenyamanan dan kesehatan masyarakat, tetapi juga menentukan tingkat risiko bencana, khususnya banjir dan genangan. Menurutnya, adaptasi perubahan iklim harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat, karena pengelolaan lingkungan perkotaan akan sulit berhasil tanpa keterlibatan warga. Ia mendorong masyarakat untuk memperkuat partisipasi dalam kegiatan lingkungan, mempraktikkan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab, serta memperluas aksi penghijauan. Dalam perspektifnya, ketangguhan iklim tidak bisa hanya dilihat sebagai program pemerintah, melainkan gerakan bersama yang harus dimulai dari lingkungan terdekat.
Narasumber ketiga, Didik Sunarjo, S.E., M.M dari BPBD Kota Surakarta, menjelaskan bahwa pengurangan risiko bencana harus dilakukan secara sistematis sejak tahap pra-bencana. Ia menekankan bahwa upaya penting yang perlu diperkuat meliputi edukasi kebencanaan, pemetaan risiko sederhana, latihan kesiapsiagaan, serta penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas. Ia juga menekankan bahwa masyarakat tidak boleh hanya menjadi objek dalam penanggulangan bencana, melainkan subjek yang paham risiko, tahu langkah antisipasi, dan memiliki mekanisme koordinasi saat terjadi kondisi darurat. Dalam paparan tersebut, ia menegaskan bahwa bencana akan menjadi krisis besar ketika komunitas tidak siap, sehingga kesiapsiagaan warga dan kolaborasi lintas pihak menjadi elemen strategis untuk meminimalkan dampak.
Kegiatan seminar dimoderatori oleh Yonathan Suryo Pambudi, S.T., M.Si, Dosen Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Kristen Teknologi Solo (UKTS) atau yang dikenal juga sebagai Solotech University. Selain berkiprah sebagai akademisi, Yonathan juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kota Surakarta Bidang Lingkungan Hidup, Energi, dan Pertanian. Ia juga merupakan Fasilitator Gereja Tangguh Bencana (GTB) JAKOMKRIS PBI, yang aktif dalam penguatan kapasitas komunitas dan edukasi kebencanaan berbasis masyarakat.
Dengan latar belakang akademik, kepemudaan, serta pengalaman pendampingan komunitas dalam isu lingkungan dan kebencanaan, Yonathan turut menggagas serta mendampingi BEM UKTS dalam merancang dan menyelenggarakan rangkaian kegiatan Solo Eco Barter ini. Keterlibatannya mencerminkan upaya kolaboratif antara kampus, organisasi kepemudaan, dan jejaring komunitas dalam membangun kesadaran publik serta memperkuat ketangguhan sosial-ekologis di Kota Surakarta.
Dalam keterangannya, Yonathan menyampaikan bahwa kegiatan ini sengaja dirancang sebagai rangkaian yang menggabungkan aksi langsung di ruang publik dan penguatan literasi melalui forum diskusi, agar dampak edukasinya tidak berhenti pada wacana, tetapi juga terlihat dalam tindakan nyata. Ia menjelaskan bahwa aksi Solo Eco Barter di CFD dipilih karena ruang publik memungkinkan interaksi langsung dengan masyarakat luas, sehingga pesan pengelolaan sampah, penghijauan, dan kesadaran iklim dapat menjangkau lebih banyak orang.
Lebih lanjut Yonathan menyampaikan bahwa penyelenggaraan seminar ini secara sengaja dipilih untuk dilaksanakan di tingkat kelurahan dan bukan di “lingkungan kampus atau hotel”. Menurut Yonathan, keputusan tersebut memiliki makna simbolik sekaligus strategis. Kelurahan merupakan ruang yang paling dekat dengan kehidupan warga, tempat persoalan lingkungan dan risiko bencana dirasakan secara nyata dalam keseharian masyarakat.
Dengan menghadirkan seminar di kelurahan, mahasiswa tidak hanya berdiskusi di ruang akademik, tetapi benar-benar “turun ke masyarakat” dan menjadikan warga dan komunitas masyarakat sebagai bagian dari proses belajar, dialog, dan perubahan. Pendekatan ini juga memperkuat pesan bahwa ketangguhan kota dibangun dari unit terkecil di masyarakat. Ketika kesadaran, kesiapsiagaan, dan kolaborasi tumbuh di tingkat kelurahan, maka fondasi ketangguhan Surakarta akan menjadi lebih kokoh dan berkelanjutan.
Momentum penting dalam seminar ini adalah deklarasi pembentukan jejaring kolaboratif oleh peserta seminar yang berasal dari berbagai organisasi dan komunitas kepemudaan di Kota Surakarta. Deklarasi ini menegaskan komitmen bersama untuk menjaga lingkungan, memperkuat adaptasi perubahan iklim, serta meningkatkan kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas. Jejaring tersebut diharapkan menjadi wadah koordinasi, pertukaran pengetahuan, dan penguatan aksi nyata yang melibatkan pemuda dan masyarakat dalam berbagai kegiatan lingkungan dan kebencanaan secara berkelanjutan.
Melalui rangkaian Solo Eco Barter dan Seminar Lingkungan Hidup ini, BEM UKTS berharap dapat memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, komunitas kepemudaan, serta masyarakat luas. Kegiatan ini diharapkan mendorong lahirnya gerakan kolektif yang berdampak langsung pada pengelolaan lingkungan, kesiapsiagaan bencana, dan ketahanan pangan, demi mewujudkan Surakarta yang lebih lestari, adaptif, dan tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim di masa depan.
Saat awak media mewawancarai Miftah yang ikut seminar mengatakan bahwa seminar lingkungan ini bagus banget apalagi alam gak menentu.kita harus merawat alam kita untuk cucu kita mas..(Red)








