SURAKARTA – Bhayangkara-lipsus.com – Gerakan peduli lingkungan kembali digaungkan di Kota Surakarta. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Kristen Teknologi Solo (BEM UKTS) bersama JAKOMKRIS PBI (Jejaring Komunitas Kristen untuk Penanggulangan Bencana di Indonesia), serta didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DISPANGTAN) Kota Surakarta, menggelar kegiatan “Solo Eco Barter: Sampah Anorganik Jadi Tanaman” pada Minggu (15/2/2026) di kawasan Car Free Day (CFD) Slamet Riyadi, Solo.
Sejak pagi, relawan mahasiswa telah memadati lokasi kegiatan di depan Bank Danamon. Mereka mengajak warga yang tengah berolahraga maupun menikmati suasana CFD untuk berpartisipasi dalam gerakan tukar sampah anorganik dengan bibit tanaman. Warga tampak antusias membawa botol plastik, kemasan bekas, dan berbagai jenis sampah anorganik lainnya untuk ditukarkan.
Tak hanya menjadi ajang penukaran sampah, kegiatan ini juga diisi dengan aksi bersih-bersih di sepanjang jalur CFD. Saat mengumpulkan sampah, mahasiswa tidak sekadar memunguti sampah yang berserakan, tetapi juga aktif mengedukasi pengunjung Car Free Day serta para Pedagang Kaki Lima (PKL) agar tidak membuang sampah sembarangan dan mulai menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Minimal, warga diajak untuk membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.
Mahasiswa berdialog langsung dengan masyarakat tentang pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memanfaatkan kembali barang yang masih layak guna, serta memilah sampah agar dapat didaur ulang. Edukasi dilakukan dengan pendekatan persuasif dan komunikatif, sehingga pesan lingkungan dapat diterima tanpa kesan menggurui.
Panitia menegaskan bahwa tujuan kegiatan ini bukan untuk menonjolkan seberapa banyak sampah yang berhasil dikumpulkan. Mahasiswa bukan petugas kebersihan. Namun, melalui pengalaman tersebut, mahasiswa diajak merasakan secara langsung bagaimana menjadi petugas kebersihan yang setiap hari membersihkan sampah kota. Pengalaman ini diharapkan mampu menumbuhkan empati, kepedulian, serta penghargaan terhadap para pekerja kebersihan yang selama ini berperan menjaga ruang publik tetap bersih.
Kegiatan semakin semarak dengan rangkaian acara pendukung, mulai dari penampilan band musik dari “Reviem UKTS”, orasi penghijauan, mini games edukatif bertema lingkungan, hingga penandatanganan komitmen peduli lingkungan sebagai bentuk dukungan masyarakat terhadap gerakan hijau di Surakarta.
Melalui konsep sederhana namun aplikatif, kegiatan Solo Eco Barter ingin menanamkan pesan bahwa sampah bukan semata persoalan limbah, melainkan tanggung jawab bersama yang bisa dikelola menjadi sesuatu yang bernilai. Bibit tanaman yang dibagikan diharapkan tidak hanya ditanam, tetapi juga dirawat sebagai bentuk kontribusi kecil terhadap penghijauan kota dan ketahanan pangan.
Dalam kegiatan ini, bibit yang disediakan terdiri dari bibit tanaman sayuran serta bibit tanaman keras. Penyediaan bibit tanaman sayuran menjadi simbol sekaligus dorongan nyata agar masyarakat mulai menanam di rumah melalui konsep urban farming, sehingga dapat memperkuat ketahanan pangan keluarga dan berkontribusi pada upaya mewujudkan ketahanan pangan Kota Surakarta. Sementara itu, bibit tanaman keras disediakan untuk mendukung penghijauan lingkungan dan meningkatkan kualitas ekosistem perkotaan.
Menurut Yonathan Suryo Pambudi, S.T., M.Si, dosen Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Kristen Teknologi Solo (UKTS) atau Solotech University yang menggagas ide kegiatan ini, Solo Eco Barter merupakan bagian dari upaya kampus untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berhenti di ruang kelas. Selain sebagai akademisi, Yonathan juga merupakan Wakil Ketua Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kota Surakarta Bidang Lingkungan Hidup, Energi, dan Pertanian, serta Fasilitator Gereja Tangguh Bencana JAKOMKRIS PBI, yang aktif mendorong gerakan kepemudaan dan komunitas dalam isu lingkungan, energi, pertanian, dan pengurangan risiko bencana.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mendidik mahasiswa agar memahami bahwa ilmu lingkungan tidak hanya dipelajari secara teori, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata di tengah masyarakat. Proses pembelajaran di UKTS mendorong mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pemecahan persoalan lingkungan, termasuk persoalan sampah, penghijauan, ketahanan pangan, hingga upaya pengurangan risiko bencana,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program seperti Solo Eco Barter merupakan bagian dari pendidikan karakter dan kepemimpinan sosial. Mahasiswa tidak hanya dibentuk menjadi lulusan yang kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian, kepekaan sosial, serta keberanian untuk menjadi agen perubahan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif bahwa kepedulian terhadap lingkungan juga berkaitan erat dengan pengurangan risiko bencana. Lingkungan yang bersih dan tertata diyakini mampu meminimalkan dampak banjir maupun persoalan ekologis lainnya di wilayah perkotaan.
Rangkaian Solo Eco Barter tidak berhenti pada kegiatan di ruang publik. Gerakan ini akan dilanjutkan dengan Seminar Lingkungan Hidup yang mengangkat tema “Ketangguhan Komunitas dalam Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana di Kota Surakarta.” Seminar tersebut dijadwalkan berlangsung pada Kamis (19/2/2026) di Kelurahan Setabelan, Surakarta, dengan menghadirkan narasumber dari unsur pemerintah daerah, Dinas Lingkungan Hidup, BPBD Kota Surakarta, serta perwakilan JAKOMKRIS PBI.
Melalui rangkaian kegiatan ini, BEM UKTS berharap lahir jejaring kolaboratif lintas komunitas yang terus menggerakkan aksi nyata peduli lingkungan di Surakarta. Pesan yang ingin ditegaskan sederhana namun mendasar: perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dan menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama.








