Bhayangkara – lipsus.com – Surakarta (03/02/2026) Dalam grebek sudiro 2026 mengambil tema heritage in harmony event yang berpaduan budaya Jawa dan Tionghoa
Ketua panitia Arsa saat jumpa pers mengatakan Kearifan lokal yang terkait dengan kebudayaan memiliki arti penting untuk menjaga keberlanjutan dan kelestarian kebudayaan. Terlebih lagi, di tengah–tengah modernisasi (globalisasi) yang dalam kenyataannya dapat menggeser nilai–nilai budaya lokal. Kearifan lokal yang sarat nilai–nilai yang terkandung didalamnya diturunkan melalui suatu aktivitas ritual dan pendidikan.
Namun demikian dalam kenyataannya nilai–nilai tradisi tersebut, hanya merupakan sebagian dari kehidupan masyarakat yang masih kokoh mempertahankan tradisi. Dalam realitasnya, pergeseran nilai–nilai budaya tersebut, tidak jarang
mengakibatkan terlupakannya nilai–nilai budaya dan kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang secara turun temurun. Pergeseran nilai–nilai budaya tersebut terutama di perkotaan mengalami degradasi, sehingga cenderung masyarakat pengguna kebudayaan itu sendiri tidak lagi mengenal kearifan lokal dengan baik.
Dalam kontek ini perlu dilakukan berbagai upaya pelestarian yang salah satunya dengan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap nilai–nilai budaya yang dapat mewujudkan kearifan lokal. Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap nilai–nilai budaya secara komunikatif, edukatif, dan melibatkan berbagai kalangan masyarakat luas, khususnya di Surakarta dapat dilakukan melalui kegiatan rutin
“Grebeg Sudiro”.
Beragamnya karya budaya yang dilatar belakangi perbedaan geogras, etnik, agama, kepercayaan dan lain sebagainya memberikan kekayaan warna karya budaya bangsa Indonesia. Konsep “Bhinneka Tunggal Ika” yang telah tertera dalam Kitab Sotasoma karya besar bidang sastra pada awal abad pertengahan, telah menjadi pondasi dalam membangun keragaman dalam kesatuan lahirnya bangsa Indonesia yang dicetuskan dalam sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928
Beragamnya warna budaya yang terjalin dengan baik dan mendalam secara turun temurun menumbuhkan interaksi budaya yang sehat dan seringkali melahirkan sinkretisme budaya (perkawinan budaya) dan melahirkan budaya–budaya baru yang khas Indonesia.
Grebeg Sudiro merupakan suatu wahana pelestarian budaya melalui interaksi budaya secara langsung dan bersifat multikulturalisme di Kota Surakarta khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Grebeg Sudiro merupakan kegiatan tahunan yang diadakan oleh seluruh warga Kelurahan Sudiroprajan, Klenteng Tien Kok Sie, Pasar Gede dan telah diselenggarakan semenjak tahun 2008.
Grebeg Sudiro dalam perjalanannya telah menjadi kegiatan budaya yang turut mewarnai budaya Surakarta yang Khas.
Grebeg Sudiro yang telah berlangsung 17 tahun telah memberi warna dan identitas Kota Surakarta sebagai Kota Budaya, bahkan telah menjadi agenda pariwisata yang khas di Kota Surakarta. Grebeg Sudiro yang dilatarbelakangi atas pertalian kebudayaan Jawa–Cina kemudian melahirkan budaya di wilayah Surakarta dan sekitarnya yang terjalin sebagai upaya pelestarian budaya secara lebih luas dan beragam, pada Tahun 2025 Grebeg Sudiro ditingkatkan melalui konsep budaya Nasional.
Dengan adanya bantuan dana pengembangan dari Pemerintah Kota Surakarta dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Grebeg Sudiro kedepannya diharapkan mampu menjadi event berskala Internasional.
H a j a t a n m a s y a r a k a t S u d i r o p r a j a n i n i d a l a m s e t i a p
penyelenggaraannya telah berhasil menjadi wahana interaksi dan edukasi
budaya, serta menjadi kegiatan pelestarian budaya yang telah
ditunggu–tunggu masyarakat Solo Raya dan sekitarnya. Sebagai kegiatan
pelestarian budaya, Grebeg Sudiro memfokuskan pada beberapa kegiatan
utama yaitu : Umbul Mantram, Karnaval Budaya, Bazar potensi UMKM, Wisata
Perahu Hias Kali Pepe, Gelar Harmony in Diversity, Semarak Harmony in
Diversity serta Pesta Kembang Api yang mana merupakan Kolaborasi Panitia
Grebeg Sudiro 2025 dengan Panitia Bersama Imlek.
Grebeg Sudiro tahun 2026 secara lebih mendetail memiliki beberapa tujuan yang antara lain :
Sebagai wahana interaksi budaya dari berbagai kalangan masyarakat di Surakarta
khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Sebagai kegiatan pelestarian budaya (local genius) di Surakarta.
Sebagai media edukasi budaya masyarakat Surakarta khususnya dan masyarakat
Indonesia bahkan dunia pada umumnya, mengenai budaya yang tumbuh
berkembang pada masyarakat. Sudiroprajan di Surakarta yang berakar dari budaya
Jawa – Cina yang kemudian melahirkan budaya Nasional yang khas Surakarta.
Sebagai media pariwisata, baik bagi masyarakat pelaku kegiatan, wisatawan
domestik dan masyarakat mancanegara.
Grebeg Sudiro tahun 2026 secara lebih mendetail memiliki beberapa tujuan yang antara lain :
Sebagai media ekonomi, Grebeg Sudiro sebagai wahana promosi produk–produk ekonomi yang dihasilkan masyarakat Sudiroprajan dan sekitarnya.
Sebagai ajang kegiatan kreativitas budaya masyarakat Surakarta dan sekitarnya.
Sebagai sarana membangun keharmonisan sosial, khususnya masyarakat Surakarta dan sekitarnya dan masyarakat dunia pada umumnya.
Sebagai salah satu wahana spiritual di bidang budaya sesuai dengan agama dan kepercayaan masyarakat masing – masing dalam kegiatan Umbul Mantram.
Tema Kegiatan Grebeg Sudiro tahun 2026 adalah
Menjaga dan Menghargai Warisan Budaya
Sambil Hidup Berdampingan Secara Harmonis
di Tengah Perkembangan Zaman
Grebeg Sudiro tahun 2026 kali ini menampilkan beberapa hal yang menarik
untuk diikuti :
Grebeg Sudiro sudah masuk dalam KEN (Karisma Event Nusantara) sebanyak 3x berturut ditahun ini, sebelumnya pada tahun 2024 dan 2025.
Dan pada tahun 2024 dan 2025 sempat berhasil masuk ke dalam Top 10 Event Provinsi Jawa Tengah dari Karisma Event Nusantara (KEN).
Grebeg Sudiro tahun 2026 kali ini menampilkan beberapa hal yang menarik
untuk diikuti :
Dalam Karnaval Budaya nanti juga terdapat penampilan dari Mahasiswa
Mancanegara yang mengikuti kirab, seperti :
– PAKISTAN
– SYRIA
– MALAWI
– NIGERIA
– TANZANIA
– SUDAN
– INDIA
– JEPANG
– TIMOR LESTE
– THAILAND
Ini adalah sesuatu hal yang baru bagi Grebeg Sudiro sendiri, karena berhasil mengajak kebudayaan mancanegara untuk turut serta dalam Karnaval Budaya.Grebeg Sudiro tahun 2026 kali ini menampilkan beberapa hal yang menarik
untuk diikuti :
Selain itu nanti dalam Karnaval Budaya juga ada Sendratari Kolosal ketika menyambut tamu VVIP dari Balaikota Surakarta menuju Panggung Utama Karnaval
Budaya. Sendratari Kolosal ini akan menggambarkan tentang bagaimana sejarah
Sudiroprajan yang akan bekerjasama dengan dengan Masyarakat Sudiroprajan,
Moko Dance Studio, Yayasan Pendidikan Warga, dan SMA Warga Surakarta.
Sendratari Kolosal sendiri akan berjudul SUDIROPRAJAN NGUMANDANG dan akan
dikoreo oleh Bp. Nur Diatmoko dengan sinopsis “Jejak waktu menyatukan gerak Jawa dan Tionghoa, melebur indah menjadi satu kesatuan energi kuat demi meraih keharmonisan sejati.
Lurah Sudiroprajan Agustinus Deny Khristiawan menambahkan pihaknya mengapresiasi antusiasme warga dalam menghadirkan kembali Grebeg Sudiro setiap tahun.
Ia memaparkan, dari sekitar 3.500 warga di Kelurahan Sudiroprajan, setengah dari jumlah tersebut ikut berkontribusi menyukseskan acara ini. Sebagai lurah kami mengucapkan terima kasih kepada warga yang sudah antusias untuk membuat event ini menjadi besar,” ujarnya bangga. Ia berharap, dengan terselenggaranya event Grebeg Sudirog geliat pariwisata Kota Surakarta semakin meningkat. “Kami berharap Grebeg Surakarta dapat meningkatkan kehadiran wisatawan domestik dan mancanegara lebih banyak dari tahun sebelumnya di kota ini,” ujarnya.








